Jumat, 26 Oktober 2018

Apa Itu Hari Sumpah Pemuda - Siapa Saja Tokoh Yang Berperan Dalam Sumpah Pemuda ???


Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sebuah janji ini dianggap sebagai semangat untuk menegaskan cita - cita berdirinya negara Indonesia. yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan kongres pemuda kedua yang diselenggarakan dua hari pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita - cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia" dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan - perkumpulan".

Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut bagaimana tercantum dalam dinding "Museum Sumpah Pemuda".

Pertama :
Kami poetra dan poetri Indonesia, Mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah, Indonesia.
Kedoa :
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga :
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjondjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Tanggal 28 Oktober setiap tahunnya selalu diperingati sebagai "Hari Sumpah Pemuda" Tokoh - tokoh yang berperan di ballik peristiwa Sumpah Pemuda adalah sebagai berikut :

1. Soegondo Jojopoespito


2. Muhamad Yamin


3. Soenario Sastrowardoyo


4. Wage Rudolf Soepratman



5. Amir Syarifuddin


6. Sarmidi Mangoensarkoro


Pencetus "Sumpah Pemuda" adalah Mohamad Yamin salah satu tokoh pencetus Sumpah Pemuda yang terkenal. Beliau tidak hanya dikenal sebagai tokoh dengan wawasan kebangsaan yang luar biasa, tetapi juga mempunyai kecerdasan dan kreativitas yang luar biasa. Beliau tidak hanya dikenal dengan gelar akademisnya tetapi juga dikenal sebagai sastrawan, sejarahwan, dan budayawan.
















Jumat, 19 Oktober 2018

Zainul Arifin Pahlawan Nasional Yang Terbunuh saat Peristiwa Pencobaan Pembunuhan Sukarno - Politisi Geriliyawan



Zainul Arifin yang memiliki nama lengkap sebagai Kiai Haji Zainul Arifiin Pohan (lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 2 September 1909 beliau wafat di Jakarta, 2 maret 1963 pada usia 63 tahun) Beliau menjabat sebagai seorang wakil perdana menteri Indonesia, ketua DPR-GR dan Politisi Nahdlatul Ulama (NU). Selama riwayat hidupnya Zainul lahir sebagai anak tunggal pasangan raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan (Ayah) dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal. Ketika Zainul masih balita kedua orangtuanya bercerai dan ia dibawa pindah ke Kotanopan kemudian ke Kerinci, Jambi. Disana ia menyelesaikan School Indish Holand (HIS) dan sekolah menengah calon guru. Arifin juga memperdalam ilmu keagamaannya di madrasah dan surau saat menjalani pelatihan bela diri yaitu pencak silat. Arifin juga adalah seorang yang aktif dalam bidang keseniaan seperti sandiwara musik melayu, Stambul Bangsawan sebagai penyanyi dan pemain bola. Stambul Bangsawan yang merupakan awal perkembangan seni panggung sandiwara modern Indonesia. Dalam usia 16 tahun, Zainul merantau ke Batavia (Jakarta).

Kehidupan Politiknya sejak masa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Zainul Arifin langsung duduk dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat ( BP KNIP), cikal bakal lembaga legislatif MPR/DPR. Hingga akhir hayatnya Arifin aktif di parlemen mewakili partai Masyumi dan kemudiaan partai NU setelah NU keluar Masyumi tahun 1952. Hanya selama 1953-1955 ketika menjabat sebagai wakil perdana menteri dalam kabinet Ali menyelengarakan Konfrensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.

Pemilu tahun 1955 menghantarkan Zainul sebagai anggota Majelis Kositusie sekaligus wakil DPR sampai kedua lembaga dibubarkan Sukarno melalui Dekret Presiden 5 Juli 1959. Memasuki era Demokrasi terpimpin itu, Arifin bersedia mejadi Ketua anggota DPR Gotong Royong (DPGR) sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen. Di tengah meningkatnya suhu politik pada 14 Mei 1962, saat salat Idul Adha di barisan depan bersama Sukarno, Zainul tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak DI/TII dalam pencobaanya membunuh presiden. Lalu Zaniul Arifin wafat tanggal 2 maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan di bahunya selama sepuluh bulan.

Minggu, 14 Oktober 2018

I GUSTI NGURAH RAI - Sejarah Singkatnya

I GUSTI NGURAH RAI 

Brigadir TNI I Gusti Ngurah Rai adalah seorang pahlawan Indonesia dari kabupaten Badung, Bali. Beliau lahir di Carang Sari Kabupaten Badung 30 Januari 1917 dan wafat 20 November 1946 kemudiaan dimakamkan di Candi Marga Tabanan Bali. Ngurah Rai memiliki pasukan yang bernama pasukan "Ciung Wanara" yang melakukan pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana.

Ayahnya bernama I Gusti Ngurah Palung yang berprofesi sebagai Manca (jabatan setingkat camat). Setelah menamatkan pendidikannya di HIS Denpasar dan MULO Malang, tahun 1936 beliau melanjutkan pendidikan Voor Reserve Officieren (CORO) di Magelang. Pada masa pendudukan Jepang, Ngurah Rai bekerja sebagai intel sekutu di daerah Bali dan Lombok.

Puputan Margarana ( Puputan dalam bahasa bali, berarti "habis-habisan", sedangkan Margarana berarti "Pertempuran di Marga". Marga adalah sebuah desa atau ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali) Di tempat puputan tersebut lalu didirikan sebuah Taman Makam Pahlawan Margarana.

Setelah Indonesia Merdeka pemerintah Indonesia I Gusti Ngurah Rai membentuk TKR Sunda kecil dan beliau menjadi komandannya dengan pangkat Letnal Kolonel. Ngurah Rai kemudian pergi ke Yogyakarta untuk konsolidasi dan mendapatkan petunjuk dari pimpinan TKR. Sekembalinya dari Yogyakarta, Bali ternyata sudah dikuasai oleh Belanda.

I Gusti Ngurah Rai membentuk kembali pasukanya yang telah tecerai berai dan memberi nama pasukannya Ciung Wanara. Setelah itu mereka melakukan penyergapan terhadap kedudukan Belanda di desa Marga Tabanan Bali. Belanda kemudiaan melancarkan serangan besar - besaran lewat darat dan udara. Ia gugur bersama seluruh pasukannya untuk perang puputan (habis-habisan). Lalu ia gugur bersama seluruh pasukanya disebelah timur laut tabanan (Bali Selatan).

Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra, dan kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI (Anumerta). Namanya kemudiaan diabadikan dalam nama Bandar Udara di Bali, Bandara Udara Intenasional Ngurah Rai.

Senin, 08 Oktober 2018

Mengenal Lebih Dekat Profil Raden Ayu Siti Hartinah - Pahlawan Nasional

Raden Ayu Siti Hartinah (23/08/1923 - 28/04/1996)
  

Dikenal dengan sebutan "Ibu Tien Soeharto" beliau adalah seorang isteri dari Presiden Indonesia kedua, Jendral Purnawirawan Soeharto. Siti menjabat sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia pada saat itu yang mendesak pentingnya larangan poligami. Lahir di Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 23 Agustus 1923. Tien merupakan anak kedua dari 10 bersaudara pasangan KPH Soemarhajomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Tien yang kemudiaan menikah dengan Soeharto pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta, Siti kemudiaan diberikan gelar Pahlawan Nasional tak lama setelah kematiaanya.

Dalam peran kehidupanya posisi Siti Hartinah sangatlah berpengaruh dalam menentukan beberapa keputusan penting. Antara lain Soeharto memutuskan terus menjadi tentara saat ia merasa mengalami badai fitnah pada tahun 1950. Soeharto nyaris berhenti dan menjadi petani atau supir taksi pada saat itu, Ia memberikan saran.

"Saya dulu diambil isteri oleh seorang prajurit dan bukan oleh supir taksi. Seorang prajurit harus dapat mengatasi setiap persoalan dengan kepala dingin walaupun hatinnya panas"

Siti Hartinah juga berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia. sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia ia mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun  1974 tentang Perkawinan.

Soeharto sendiri menegaskan kesetiaan kepadaanya.

"Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto".

Beliau sangat mempengaruhi rencana sukses Soeharto pada akhir tahun 1990. Siti Hartinah kemudiaan  meninggal akibat penyakit jantung yang dideritanya pada hari Minggu 28 April 1996 dan Soeharto sangat terpukul atas kematiaan isterinya Siti Hartinah.









Selasa, 02 Oktober 2018

10 Pahlawan Revolusi Yang Gugur Saat G30SPKI

Penghianatan Partai Komunis Indonesia pada tanggal 30 Spetember atau yang lebih dikenal sebagai peristiwa G30SPKI tentu menorehkan sejarah kelam bagi negara Indonesia, peristiwa ini ditandai dengan pembunuhan sadis terhadap sejumlah perwira militer pada tahun 1965 baik di Jakarta maupun di Yogyakarta. 10 korban Pahlawan pejuang saat itu diberi gelar sebagai pahlawan Revolusi oleh preseiden Soekarno. Gelar tersebut juga diakui sebagai pahlawan nasional berikut adalah daftar Pahlawan Revolusi yang gugur saat peristiwa G30SPKI :

1. Jendral TNI (Anumerta) Ahmad Yani


       Beliau merupakan komandan Tentara Nasional Angkatan Darat yang menjabat sebagai Staff  TNI AD pada tahun 1962-1965 Jendral Ahmad Yani dibunuh oleh anggota G30SPKI dirumahnya di Jakarta pada tanggal 31 Oktober 1965 dini hari. Ia meninggal pada usia 43tahun yang lahir di Purworejo 19 Juni 1922, Beliau memang dikenal sebagai sosok yang sangat anti komunis ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan preseiden Indonesia yaitu Ir.Soekarno.

 
2. Letnan Jendral TNI (Anumerta) Raden Suprapto


    Mengawali awal kegiataan militernya saat bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) ia lahir di Purworejo 22 Juni tahun 1920 Beliau merupakan salah satu orang yang pernah menjadi ajudan Panglima Besar Jendral Sudirman dan Ia pun berjuang dalam pertempuran Ambarawa Beliau wafat di usia 45 tahun.


3. Letnan Jendral TNI (Anumerta) Mas Tirtodarmo Haryono


    Ia lahir di Surabaya tanggal 20 Januari 1924, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dalam tiga bahasa asing, Beliau menempuh pendidikan tinggi yang didirikan Jepang di Jakarta MP. Haryono memutuskan bergabung menjadi Tentara saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

 
4. Letnan Jendral TNI (Anumerta) Siswondo Parman

      Lahir di Wonosobo 4 Agustus 1918 berpangkat sebagai Mayor Jendral beliau diangkat sebagai Asisten pertama di bidang intelejen pertama Angkatan Darat yaitu Jendral Ahmad Yani. S Parman wafat pada usia 47 tahun.


5. Mayor Jendral TNI (Anumerta) Donald Isaac Panjaitan


    Lahir di Balige Sumatera Utara Juni tahun 1925 merupakan salah satu perintis dibalik lahirnya TNI Panjaitan mencatat prestasi dalam pembongkaran senjata dari China untuk PKI, ia dibunuh oleh sekelompok G30SPKI dirumahnya dalam kondisi memakai seragam dan atribut lengkap.

 
6 .Mayor Jendral TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo


   Beliau lahir di Kebumen 28 Agustus tahun 1922, Sutoyo diangkat sebagai Inspektur Kehakiman atau Jaksa militer utama tahun 1961 wafatnya Sutoyo karena dinunuh oleh pasukan G30SPI di lubang buaya setelah diculik dirumahnya.

 
7. Kapten (Anumerta) Pierre Adreas Tendean


    Merupakan sosok asisten ajudan jendral besar TNI Abdul Haris Nasution perwira militer ini lahir pada tanggal 21 februari 1939 megawali karier militernya sebagai intelejen dan ia pun terbunuh karena ditembak oleh pasukan G30SPKI yang saat itu mengira Pierre Adreas Tendean  adalah Nasution.

 
8. Aipda (Anumerta) Karel Satsuit Tubun


    Beliau lahir di Maluku Tenggara pada 13 oktober tahun 1928 K.S Tubun merupakan ajudan salah satu menteri kabinet Soeharto Johan S. Lemena yang rumahnya persis disamping Jendral besar Tni Abdul Haris Nasution. Ia wafat pada usia 36 tahun dan menjadi satu - satunya korban G30SPKI yang bukan dari anggota Tni K.S Tubun tertembak saat PKI mengepung rumah Nasution yang menjadi Target utama PKI.


9. Brigadir Jendral TNI (Anumerta) Katamso Darmokusumo


    Lahir di Sragen 5 februari tahun 1923 Brigjen Katamso merupakan mantan komandan pamungkas yang dibunuh pada peristiwa G30SPKI di wilayah Kentungan Yogyakarta.


10. Kolonel Infanteri (Anumerta) R. Sugiyono Mangunwiyoto


      R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir di gunung kidul 12 agustus tahun 1926 Ia menjabat sebagai mantan kepala staff  Pamungkas sebelum terbunuh oleh anggota G30SPKI di Kentungan Yogyakarta. Beliau meninggal saat isterinya tenggah mengandung seorang puteri mereka dan setelah lahir puteri tersebut diberikan nama Sugiyati Takarina oleh Presiden Soekarno.

Untuk mengenang nama- nama revolusi pemerintah menggunakan nama - nama tersebut sebagai nama jalan di kota - kota besar di Indonesia.