Jumat, 19 Oktober 2018

Zainul Arifin Pahlawan Nasional Yang Terbunuh saat Peristiwa Pencobaan Pembunuhan Sukarno - Politisi Geriliyawan



Zainul Arifin yang memiliki nama lengkap sebagai Kiai Haji Zainul Arifiin Pohan (lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 2 September 1909 beliau wafat di Jakarta, 2 maret 1963 pada usia 63 tahun) Beliau menjabat sebagai seorang wakil perdana menteri Indonesia, ketua DPR-GR dan Politisi Nahdlatul Ulama (NU). Selama riwayat hidupnya Zainul lahir sebagai anak tunggal pasangan raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan (Ayah) dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal. Ketika Zainul masih balita kedua orangtuanya bercerai dan ia dibawa pindah ke Kotanopan kemudian ke Kerinci, Jambi. Disana ia menyelesaikan School Indish Holand (HIS) dan sekolah menengah calon guru. Arifin juga memperdalam ilmu keagamaannya di madrasah dan surau saat menjalani pelatihan bela diri yaitu pencak silat. Arifin juga adalah seorang yang aktif dalam bidang keseniaan seperti sandiwara musik melayu, Stambul Bangsawan sebagai penyanyi dan pemain bola. Stambul Bangsawan yang merupakan awal perkembangan seni panggung sandiwara modern Indonesia. Dalam usia 16 tahun, Zainul merantau ke Batavia (Jakarta).

Kehidupan Politiknya sejak masa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Zainul Arifin langsung duduk dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat ( BP KNIP), cikal bakal lembaga legislatif MPR/DPR. Hingga akhir hayatnya Arifin aktif di parlemen mewakili partai Masyumi dan kemudiaan partai NU setelah NU keluar Masyumi tahun 1952. Hanya selama 1953-1955 ketika menjabat sebagai wakil perdana menteri dalam kabinet Ali menyelengarakan Konfrensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.

Pemilu tahun 1955 menghantarkan Zainul sebagai anggota Majelis Kositusie sekaligus wakil DPR sampai kedua lembaga dibubarkan Sukarno melalui Dekret Presiden 5 Juli 1959. Memasuki era Demokrasi terpimpin itu, Arifin bersedia mejadi Ketua anggota DPR Gotong Royong (DPGR) sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen. Di tengah meningkatnya suhu politik pada 14 Mei 1962, saat salat Idul Adha di barisan depan bersama Sukarno, Zainul tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak DI/TII dalam pencobaanya membunuh presiden. Lalu Zaniul Arifin wafat tanggal 2 maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan di bahunya selama sepuluh bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar